AS akan uji teknologi militer di medan perang seperti Ukraina

Ringkasan Berita:
  • AS berencana membangun dua lokasi latihan militer yang meniru kondisi medan perang di Ukraina guna mempercepat pengembangan teknologi tempur.
  • Fasilitas tersebut akan menyediakan simulasi perang elektronik serta melibatkan tentara, produsen drone, dan pengembang sistem anti-drone.
  • Pihak Pentagon menganggap perang antara Rusia dan Ukraina menunjukkan kepentingan dalam menghadapi ancaman drone yang murah dan jumlahnya banyak.
  • AS juga mempertimbangkan pembangunan fasilitas uji coba serupa di luar negeri bersama negara aliansi.

RAB NEWSAmerika Serikat (AS) rencananya akan membangun paling sedikit dua lokasi latihan militer yang menyerupai kondisi medan perang di Ukraina sebagai bagian dari upaya untuk mempercepat pengembangan teknologi pertempuran dan meningkatkan kesiapan pasukan menghadapi konflik zaman now.

Menteri Angkatan Darat Amerika Serikat Dan Driscoll menyatakan bahwa fasilitas tersebut akan mulai dipersiapkan dalam jangka waktu empat hingga enam minggu mendatang.

Menurutnya, lokasi latihan akan dibuat menyerupai garis depan pertempuran di Ukraina, termasuk menyediakan lingkungan perang elektronik dan situasi tempur yang sengit seperti yang terjadi dalam konflik Rusia-Ukraina.

Kami akan menemukan paling sedikit dua lokasi latihan nasional yang mampu meniru garis depan di Ukraina. Anda bisa membuat bentuk perang elektronik dan seluruh lingkungan yang diperebutkan, kemudian melibatkan produsen drone dan pengembang sistem.anti-dronedalam uji coba bersama,” ujar Driscoll kepada para jurnalis, Selasa (23/6/2026).

Fasilitas tersebut tidak hanya dimanfaatkan oleh sektor pertahanan, tetapi juga digunakan oleh tentara Amerika Serikat untuk berlatih dan bekerja sama secara langsung dengan pengembang teknologi militer.

“Kami juga berharap para tentara bisa pergi ke sana, agar mereka dapat meningkatkan kemampuan mereka dan bekerja sama dengan para pengembang,” katanya.

Rencana ini muncul di tengah kekhawatiran Kementerian Pertahanan terhadap perubahan sifat perang modern yang semakin didominasi oleh penggunaan pesawat tanpa awak murah dalam jumlah besar.

Pengalaman perang di Ukraina menunjukkan bahwa teknologi dengan biaya rendah mampu memberikan tekanan signifikan terhadap sistem pertahanan yang bergantung pada rudal-rudal mahal, laporan menyebutkanDefense Scoop.

AS Pertimbangkan Kerja Sama dengan Negara Lain dalam Membangun Fasilitas Uji Coba

Selain mengembangkan lokasi pelatihan di dalam negeri, Angkatan Darat Amerika Serikat juga sedang mempertimbangkan pembuatan fasilitas uji coba di luar negeri bersama negara-negara aliansi.

Namun, Driscoll menolak mengungkapkan negara apa yang akan menjadi mitra dalam proyek tersebut.

Ia mengatakan, kami sedang mempertimbangkan lokasi global di luar Amerika Serikat yang memungkinkan Angkatan Darat dan industri melakukan pengujian yang lebih proaktif.

Pejabat Angkatan Darat Amerika Serikat menganggap percepatan pengujian sebagai kebutuhan mendesak karena perusahaan pertahanan sering kali harus menunggu antara 12 hingga 18 bulan untuk bisa memperoleh akses ke lapangan tembak militer dalam menguji teknologi terbaru.

Kepala Pengadaan Angkatan Darat Amerika Serikat, Brent Ingraham, menggambarkan situasi ini sebagai penghalang bagi inovasi, khususnya bagi perusahaan startup yang sedang mengembangkan teknologi pertahanan.

Di sisi lain, pejabat Kantor Ancaman Strategis Angkatan Darat Amerika Serikat, Dwayne Hynes, menyoroti jumlah produksi drone yang besar dalam perang Rusia-Ukraina.

Menurutnya, Rusia saat ini mampu menghasilkan sekitar 3.000 hingga 5.000 drone serangan jenis Shahed setiap bulan, serta sekitar 600.000 drone FPV (sudah diakhiri)first-person-view) yang lebih kecil.

Di sisi lain, Ukraina menghasilkan sekitar 30.000 drone penangkal setiap bulan guna menghadapi ancaman tersebut.

Hynes menganggap model perang saat ini telah berubah menjadi perang gesekan yang lebih menekankan pada jumlah produksi daripada teknologi yang mahal.

“Bukan hanya soal akurasi radar atau jangkauan maksimum. Ini adalah perang gesekan yang sengit, dan saat ini lawan sedang memenangkan perlombaan logistik sebelum tembakan pertama dikeluarkan,” katanya.

Ia juga menyoroti perbedaan biaya antara sistem pertahanan yang modern dan ancaman yang dihadapi di medan perang.

“Kami baru saja meluncurkan rudal pertahanan canggih yang bernilai 2 juta dolar AS untuk menghancurkan drone seharga 20 ribu dolar AS. Perhitungan semacam ini tidak dapat dipertahankan,” ujar Hynes.

Oleh karena itu, Angkatan Darat Amerika Serikat saat ini mendukung pengembangan rudal pertahanan yang terjangkau dan dapat diproduksi dalam jumlah besar guna melengkapi sistem pertahanan canggih seperti Patriot dan THAAD.

Driscoll membandingkan sistem pertahanan berbasis teknologi canggih itu dengan “Ferrari” di dunia senjata.

“Sistem yang kita miliki saat ini sangat luar biasa. Namun, kita perlu beberapa penyelesaian tambahan untuk melengkapi sistem tersebut,” katanya.

Proses pembentukan medan perang khas Ukraina ini merupakan bagian dari transformasi besar militer Amerika Serikat dalam menghadapi era perang yang baru, di mana drone murah, perang elektronik, dan kemampuan produksi massal dianggap sebanding pentingnya dengan senjata canggih yang bernilai miliaran dolar, menurut laporan. CBS News.

Latar Belakang Perang Rusia melawan Ukraina

Perang Rusia-Ukraina yang dimulai pada 24 Februari 2022 bermula dari ketegangan yang telah berlangsung selama beberapa dekade sejak Ukraina meraih kemerdekaannya dari Uni Soviet pada tahun 1991.

Hubungan antara Moskow dan Kyiv dipengaruhi oleh perbedaan pendapat mengenai politik, keamanan, serta arah kebijakan luar negeri dari masing-masing negara.

Seiring berjalannya waktu, Ukraina semakin memperkuat hubungannya dengan negara-negara Barat dan menyatakan keinginannya untuk menjadi anggota NATO. Rusia menganggap tindakan ini sebagai ancaman terhadap kepentingan keamanannya karena bisa memperluas pengaruh aliansi militer Barat hingga dekat dengan batas wilayah Rusia.

Tensi semakin memuncak pada tahun 2014 setelah terjadinya perubahan kepemimpinan di Ukraina. Di tahun yang sama, Rusia memperkuas Semenanjung Krimea, sementara bentrokan senjata meletus di wilayah Donetsk dan Luhansk di bagian timur Ukraina.

Berbagai langkah diplomatik dan perjanjian perdamaian telah dilakukan dalam jangka waktu lama, namun masih belum mampu mengatasi akar dari masalah yang menjadi penyebab konflik tersebut.

Situasi mencapai puncaknya pada Februari 2022 ketika Rusia memulai operasi militer besar-besaran terhadap Ukraina. Moskow mengklaim operasi ini bertujuan untuk melindungi warga yang berbicara bahasa Rusia dan mencegah perluasan NATO, sementara Ukraina bersama negara-negara Barat menganggap tindakan tersebut sebagai invasi terhadap sebuah negara yang merdeka.

Sejak perang dimulai, Ukraina mendapatkan bantuan militer, ekonomi, dan politik dari Amerika Serikat serta beberapa negara Eropa. Di sisi lain, Rusia menghadapi berbagai hukuman internasional yang mengarah pada sektor keuangan, energi, perdagangan, serta bidang strategis lainnya.

Dampak konflik tidak hanya dirasakan oleh dua negara yang terlibat, tetapi juga berdampak pada berbagai negara lain akibat gangguan dalam pasokan energi dan makanan global serta meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia.

Sampai saat ini, konflik masih berlangsung meskipun berbagai usaha negosiasi dan penengahan terus dilakukan. Namun, jalannya menuju perdamaian sering kali menghadapi tantangan karena perbedaan kepentingan antara kedua pihak serta perubahan dinamika politik global yang terus berkembang. Sampai kini, perselisihan masih berlangsung meskipun berbagai upaya komunikasi dan intervensi terus dilakukan. Tetapi, proses menuju solusi damai seringkali mengalami hambatan akibat ketidaksejajaran kepentingan masing-masing pihak serta perkembangan situasi geopolitik yang terus berubah. Hingga kini, konflik tetap berlangsung meskipun berbagai langkah dialog dan mediasi terus dilakukan. Namun, proses menuju perdamaian sering kali terhambat karena perbedaan kepentingan antara kedua belah pihak serta dinamika politik internasional yang selalu berubah.

Pada berbagai diskusi, Rusia menyampaikan beberapa permintaan, antara lain agar Ukraina tidak mengikuti NATO, mengakui kondisi Krimea dan wilayah lain yang klaim Moskow, membatasi kemampuan militer negara tersebut, serta meningkatkan perlindungan bagi penduduk yang berbicara bahasa Rusia.

Di sisi lain, Ukraina tetap menolak permintaan tersebut dan menegaskan komitmennya untuk menjaga kedaulatan, kemerdekaan, serta integritas wilayahnya sesuai dengan prinsip-prinsip hukum internasional.

(RAB NEWS/Yunita Rahmayanti)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *